The Principle and the Story of My Life

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

(Assalamu'alaikum Wr. Wb)


Saat yang ditunggu dan dinanti nanti setelah sekian lama saya tidak memosting dan akhirnya tersampaikanlah keinginan saya untuk memosting cerita yang tergolong singkat ini namun besar maknanya bagi kehidupan kita mulai dari kita beranjak kecil hingga dewasa nanti. Jadi bagi kamu yang ingin membaca cerita hidup saya ini kiranya kamu siapkan dulu suatu lain yang bisa menemani kamu, agar kamu tidak bosan membaca cerita ini. Mengapa kali ini saya berkata dengan bahasa baku? tidak seperti biasanya menggunakan lo, gw, dan sebagainya. Itu karena saya ingin sekali anda saat membaca cerita ini benar benar terbawa, memahami, dan memaknai dengan sungguh apa yang saya tulis. Sebelumnya saya sangat minta maaf sekali jika tulisan saya ini menyinggung beberapa perasaan orang yang membacanya. Karena memang prinsip hidup saya sangatlah berbeda dari kebanyakan orang di luar sana.

Sebenarnya prinsip hidup yang saya akan ceritakan disini itu adalah kesimpulan dari berbagai pengalaman hidup yang pernah saya jalani mulai dari saya kecil, anak-anak, hingga sampai saat saya bersekolah tingkat SMA. Nantinya jika saya sudah menjadi dewasa dan sukses dan saya masih ingat memosting ini saya akan update kembali untuk mempersunting postingan ini menjadi lebih baik lagi إِنْ شَاءَ اللَّهُ.

Prinsip hidup yang saya akan ceritakan ini bersifat umum. Maksudnya, semua orang dari kalangan muda maupun tua boleh membacanya dan topiknya pun bersifat membahas aktivitas yang kebanyakan orang lakukan semasa ia kecil sampai dewasa. Walaupun saya masih bersekolah SMA saya ingin berusaha menjadi orang yang lebih baik. Saya ingin berubah menjadi orang yang bersifat dewasa tidak menjadi seperti kekanak kanakan yang banyak menimbulkan resiko dan akibat.

Semasa kecil dulu saat SD saya sering pulang pergi berangkat sekolah untuk menuntut ilmu bersama teman-teman yang lain. Dikala itu saya juga masih sangat berlebihan dalam bercandaan dengan teman. Setiap ada ulangan saya terkadang sangat berusaha sekali untuk mendapatkan nilai yang bagus, Bagaimanapun caranya, Alhasil karena mata pelajaran yang hanya saya sukai adalah matematika dan IPA, jadi jika saya belajar, materi yang paling banyak saya pelajari dan saya tekuni adalah matematika dan IPA. Maka dari itu ketika saya hendak ulangan atau tes matematika dan IPA saya selalu mendapat nilai bagus. Tetapi untuk mata pelajaran yang lain? Karena saya dulu masih banyak bertingkah tetapi saya juga ingin nilai di semua mata pelajaran itu bagus. Maka dari itu mata pelajaran yang lain terkadang saya pun beberapa soal melihat sana sini ketika ulangan alias menyontek. Kecuali saat ujian nasional kelas 6 berlangsung saya tidak sama sekali untuk menyontek.

Saat SMP pun tiba saya belum tau betul jati diri saya ini seperti apa. Tapi saat kelas 7 saya sedikit sudah ada perbaikan dalam hidup. Di saat sendiri terkadang saya merenungkan berbagai peristiwa pengalaman yang pernah terjadi dalam hidup saya ini dan mengambil berbagai pelajaran dan itulah yang saya lakukan hingga sampai sekarang ini. Tapi saat itu saya pun masih belum bisa berpaling dari yang namanya menyontek. Sampai akhir kelas 9 pun saya seperti itu. Kecuali jika saat UN tiba saya harus bisa berani untuk mengerjakan sendiri. Setelah pengumuman kelulusan tiba, saat itu saya pun sempat bingung mau masuk SMK atau SMA. Setelah berpikir jauh kedepan akhirnya karena saya suka IPA dan masih perlu banyak belajar saya putuskanlah untuk ambil SMA.

Saya masuk ke salah satu SMA favorit di Jakarta. Saya berharap jika saya masuk SMA dimana mata pelajaran yang betul betul tidak ada hubungannya dengan IPA itu ditiadakan tapi faktanya berkata lain. Mata pelajaran malah semakin banyak dengan bertambahnya mata pelajaran tertentu seperti Jerman, Sejarah, dan lain-lain. Semenjak saya di SMA saya lebih memahami makna hidup ini sebenarnya dan saya sudah tidak lagi menyontek saat ulangan kapanpun dan masalah hasil jelek bagus itu adalah hal biasa. Mungkin bagi kebanyakan orang, saya itu tergolong aneh. Mungkin juga banyak orang yang bilang kalau saya itu hanya cuma bisa di bidang yang berhubungan dengan matematika. Tapi bagi saya itu tak mengapa dibanding dengan tak bisa apa apa. Karena hakikatnya semua manusia punya kelemahan dan kelebihan masing masing. Walaupun orang orang dan teman teman saya menganggap belajar banyak itu luar biasa, tetapi bagi saya jika saya menganggap apa yang saya minati dan saya sukai disitulah kemampuan saya harus diperdalam dan dipelajari lagi agar nantinya kita menjadi orang orang yang berkemampuan tinggi dalam bidang masing masing.


Sebelumnya saya minta maaf kepada orang orang yang membaca ini terutama pejabat pemerintah dan para staf menteri pendidikan dan kebudayaan kalau tidak ada yang sependapat,  jika saya sebenarnya sempat sedikit heran dengan kurikulum Indonesia. Mengapa? Karena saya pribadi melihat berdasarkan pengalaman saya sejak saya SD saya sangat menyukai matematika dan IPA, masuk SMP saya lebih menyukai lagi dan masuk SMA saya pun memilih jurusan IPA. Disitu saya sangat berharap agar pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan IPA ditiadakan. Mengapa? Karena proses pemilihan jurusan sejatinya berdasarkan minat dan kecintaan siswa terhadap ilmu tersebut yaitu IPA atau IPS. Tapi sekarang faktanya berlainan banyak orang berbiacara "kalau masuk IPA itu bagus lhoo bisa cari kerja luas" akhirnya banyak siswa siswi yang masuk IPA dan disitu saya mengamati malah banyak siswa yang tidak menyukai Fisika, Matematika, Kimia, melainkan di pelajaran sejarah ia malah mendapat nilai yang bagus. Oleh karena itu sejatinya siswa siswi yang memilih jurusan di SMA memang benar benar meminati jurusan tersebut bukan hanya setengah setengah. Saya pun melihat banyak siswa siswi yang sudah lulus SMA akhirnya ia pun beranjak ke perguruan tinggi dan berpaling dari yang dulu mereka pilih yaitu IPA misalnya mereka memilih sastra atau yang lainnya. Saya pun juga sempat heran mengapa harus banyak sekali pelajaran yang harus dipelajari dan tidak ada hubungannya dengan IPA dan masa depan siswa yang memilih jurusan tersebut. Bukankah mereka nantinya juga berprofesi di bidang yang mereka sukai? Kembali lagi yang saya ucapkan tadi bahwasanya manusia punya kelemahan dan kelebihan masing masing. Ketika saya menanyakan suatu hal ke teman saya ke banyak orang terdekat saya mengenai "mengapa kita sudah memilih IPA tapi masih ada pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan IPA?". Banyak orang yang bilang kalau mungkin nanti kamu saat dewasa bisa saja membutuhkan bidang tersebut. Di pikiran saya itu boleh sedikit di terima, tapi faktanya jika setelah lulus dari SMA beranjak ke perguruan tinggi kita memilih jurusan misalnya "teknik mesin" pasti nanti bidang yang dipelajari selain IPA nantinya juga tak ada seperti sejarah. Setelah lulus dari perguruan tinggi pun mereka sudah bekerja dan saya bisa pastikan bahwa mereka hanya sangat sedikit sekali mengingat pelajaran yang tidak berhubungan dengan IPA yang ia pelajari sewaktu SMA dulu karena ia selama perguruan tinggi tak diajarkan. Maka dari itu apalah gunanya pelajaran yang tak ada hubungannya dengan IPA seperti sejarah sebaiknya dihilangkan dan waktu luang untuk pelajaran tersebut dialokasikan ke pelajaran IPA seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi. Bukankah itu menjadi lebih baik? Apalah gunanya jika saya bersusah payah untuk banyak belajar mata pelajaran di sekolah dan nantinya jika saya di perguruan tinggi memilih jurusan yang berhubungan dengan IPA, pasti nantinya pelajaran tersebut akan sia sia. Jikalau saat SMA pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan IPA dihilangkan pasti akan lebih terfokuskan ke bidang IPA tersebut. Cobalah para pembaca lihat ke luar sana bahwa banyak anak anak Olimpiade International pasti sangat menguasai bidang yang mereka geluti. Karena mereka mempunyai banyak waktu untuk mendalami apa yang mereka minati. dan itu saya yakin bahwa mereka di masa depan akan menjadi penerus penerus emas bagi bangsa Indonesia ini karena sejak awal mereka sudah mendalami dan menguasai betul apa yang mereka minati.


Tidak seperti sekarang ini banyak siswa siswi temen saya yang merupakan golongan orang orang yang belum menemukan minat dan bakat mereka di bidang yang mereka minati dan mereka sangat bingung untuk nantinya di perguruan tinggi memilih jurusan apa. Padahal mereka sudah berada di kelas 12 SMA yang sedikit lagi meninggalkan bangku SMA untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Mungkin ini menurut saya adalah salah satu akibat dari terlalu banyaknya bidang yang mereka harus pelajari. Jadi mereka bingung dan bimbang untuk menentukan pilihan dengan tepat.


Di samping mata pelajaran yang cukup banyak, ini juga merupakan efek dari buruknya kualitas negeri ini. Mengapa? Karena banyak orang orang di luar sana termasuk teman teman saya juga yang tergolong rajin dalam hal mencari nilai bukan mencari ilmu. sepertinya terdengar menarik memang. Ya memang begitu fakta di dalam negeri kita ini yaitu Indonesia dimana "Orang yang memiliki harta adalah orang yang terpandang yang bisa menguasai segalanya". Dari situlah kebanyakan orang berpandangan  bahwa jika seseorang yang memiliki harta banyak adalah orang yang hebat maka banyak orang tua yang menginginkan anaknya mendapat nilai yang bagus saat ia bersekolah dengan begitu orang tua bisa yakin bahwa anak anaknya kelak akan menjadi orang yang sukses. Tapi padahal sejatinya belum tentu. Siswa pasti di dalam dirinya sudah tergambarkan bahwa dia harus mendapat nilai bagus. Dari situlah muncul pelanggaran pelanggaran moral yang terjadi pada negeri kita ini yaitu ketidakjujuran yang sekarang bisa kita lihat para pejabat yang melakukan banyak tindakan melanggar hukum salah satunya adalah KKN. banyak siswa yang menghalalkan segala cara demi mendapat nilai bagus.

Ada beberapa teman saya yang selalu tidak menyontek namanya sebut saja X. si X ini sangat rajin sekali sampai sampai semua pelajaran dia selalu berjuang untuk mendapat nilai bagus. Setiap mata pelajaran berlangsung ia sangat mengikutinya dengan serius. Ketika hendak mau ulangan pasti dia selalu belajar dengan keras. Setelah ulangan pasti hal yang sama dirasakan oleh setiap siswa adalah kelegaan beban pikiran akibat ulangan dan setelah mendapat nilai bagus kita pasti akan bangga. tapi sayangnya menurut saya di saat sekarang ini adalah belajar hanya untuk nilai bukan untuk ilmu yang dipertahankan untuk jangka panjang. Jikalau seperti itu pasti beberapa hari kemudian ia akan lupa materi tersebut. Karena biasanya cara belajar orang yang menuntut karena nilai adalah dengan menghafal bukan memahami. Mungkin ini adalah penyebab dari banyaknya mata pelajaran yang harus dipelajari di sekolah dan menuntut siswanya agar memperoleh hasil yang maksimal dan bagus karena gambaran dari siswa tersbut adalah saat nanti ia bekerja pasti mendapat uang atau gaji yang besar.

Sejatinya kita sebagai umat manusia bisa untuk belajar sendiri atau otodidak. lalu sekolah gunanya untuk apa? Menurut pengamatan saya pribadi selama ini sekolah tampaknya hanya untuk ajang kita mengejar nilai. karena tujuan kita disekolah mendapat ijazah dan memperoleh nilai yang bagus bukan?. Kalau kita bisa belajar otodidak lalu guru disekolah buat apa? Menurut pengamatan saya guru yang ada di sekolah maupun guru atau pembimbing apapun itu ia sejatinya merupakan fasilitator dalam belajar. Saya pernah merasakan ketika saya belajar bidang yang saya minati yaitu fisika untuk mengikuti OSN mulai dari tingkat kabupaten kota sebelum OSK dimulai saya harus berjuang belajar sendiri dan setelah itu saya sadar jika saya bisa belajar dari kakak kelas dulu yang mengikuti OSN, dari situlah saya rasa belajar dengan dibimbing itu lebih cepat. Mungkin secara fisik memang negeri ini hanya mementingkan kuantitas bukan kualitas tetapi jika kita telaah lebih dalam lagi sejatinya kualitas lebih penting daripada kuantitas. "Semangat juang, kerja keras, dan moral yang kita miliki itu lebih penting daripada harta atau nilai pelajaran". Karena dengan uang atau harta kita tak bisa apa apa dan juga tak dibawa mati. sedangkan ilmu itu lebih berharga dan mempunyai derajat yang lebih tinggi disisi Tuhan Yang Maha Esa.

Kiranya cukup sekian cerita yang saya sampaikan ini. Sekali lagi saya mohon meminta maaf yang sebesar besarnya kepada para pembaca apabila kalian tersinggung dengan cerita saya ini. Saya hanya mengutarakan pengalaman dan prinsip hidup saya ini dan saya juga mohon maaf jika ada salah kata dalam tulisan ini karena manusia tak luput dari yang namanya kesalahan dan dosa. Pesan pesan terakhir yang saya ingin sampaikan dalam tulisan ini adalah "Jadilah orang-orang yang mempunyai semangat juang yang tinggi dan tidak memerdulikan hasil, berpegangteguhlah pada pendirian hidup kita walaupun kita sangat berbeda dari golongan mayoritas, dan jadilah orang-orang yang berkualitas". Akhir kata dari saya

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

(Wassalamu'alaikum Wr. Wb)

Jangan sampai ketinggalan postingan-postingan terbaik dari blog Science Information. Berlangganan melalui email sekarang juga: